Mendramatisasi Sebuah Proses
Mendramatisasi Sebuah Proses
Bertahun tahun lalu, muncul keinginan dengan ide dan tujuan yang besar. Penuh kesadaran, sangat memahami bahwa ide yang besar membutuhkan proses yang tidak mudah. Bahkan waktu yang panjang.
Jika seseorang yang bukan siapa-siapa, bahkan dengan banyak keterbatasan. Maka titik mulainya bisa jadi tidak dari nol, melainkan minus. Tentu, hal ini butuh usaha yang lebih. Komitmen yang kuat dan konsistensi yang disiplin. Tidak untuk main-main bahkan setengah-setengah. Harus totalitas.
-----------
Memasuki dunia kuliah, mempertemukanku dengan banyak hal. Pengalaman baru, lingkungan pertemanan baru dan semua cerita baru. Termasuk pola pikir baru tentang bagaimana kehidupan bekerja.
Di satu waktu, aku bertemu dengan komunitas "Youtuber lokal", di dalamnya berisi orang-orang hebat yang ahli di bidang video dan perkontenan dengan penghasilan fantastis dari akun youtube mereka. Banyak sekali ilmu yang didapat, namun banyaknya ilmu tidak seberapa jika tidak diaplikasikan. Kuncinya adalah praktek dan konsisten.
Darisitu aku memahami bahwa kunci dari menjadi hebat adalah terus berlatih. Konsisten yang merupakan proses panjang dan tidak mudah. Aku mencobanya, berulang kali, berkali-kali. Sayangnya manusia seperti ku, ada saja alasan yang dibuat untuk mematahkan konsisten. Alasan kuliah saat itu, bekerja ataupun ujian. Banyak ide yang menjadi alasan hanya untuk membenarkan ketidak konsistenan.
Terus mencoba di lain waktu, dan patah konsisten seiring waktu berjalan. Bertahan tiga hari, patah seminggu. Terus konsisten seminggu, hilang selama sebulan.
Usaha lain dicoba, membuat daily activity supaya waktu tertata dari hari ke hari. Na'asnya hanya berjalan selama dua hari lalu tercerabut karena rebahan dan scrolling.
Mencoba reflektif, ini salahnya dimana. Kenapa terus gagal. Bertanya sana sini untuk menemukan jawaban. Salah satunya adalah AI. Bercerita panjang lebar dan detail untuk menemukan jawaban dan solusi.
Jawaban didapat, solusi sudah tercatat. Sayangnya hanya jadi bacaan sesaat. Kembali pada setelan awal.
Seiring waktu berlalu, perasaan kosong hadir karena kebosanan dan terjebak. Masih disini-sini saja. Tanpa ada perubahan.
Dilain diri menggerutu dengan penuh kesadaran, "Kan ini akibat dirimu sendiri karena terlalu menunda, 5 menit, besok, bulan depan. Tanpa hasil yang nyata. Semua ide besar itu terabaikan dalam sebuah catatan saja. Tanpa aksi nyata".
Aku merasakan sesak, dari pengakuan diri itu. "Kamu percaya pada proses, namun hanya berani berisik mencari jawaban dan solusi tanpa kesungguhan ingin melakukannya. Kecewa karena hasil tidak sesuai ide dengan ekspektasi tinggi. Kamu melupakan fakta bahwa kamu adalah PEMULA yang membutuhkan banyak latihan. Dari banyaknya latihan tersebut akan membentuk dirimu yang kelak akan menjadi AHLI. Maka tetaplah dalam rel yang dinamakan proses", ujarnya panjang dan penuh penekanan.
Iya selama ini aku sadar, hanya saja fakta sebuah proses bukanlah hal yang praktis membuatku merasa kecewa pada hasil yang tidak sesuai. Membuatku mundur dan terus melakukan penundaan.
Sebuah proses bukanlah hal yang sulit ketika menjadi sebuah kebiasaan. Bahkan terasa menyenangkan dan biasa saja. Tanpa banyak drama untuk sebuah alasan agar tidak konsisten.
Komentar
Posting Komentar