Isi Kepala dengan Segala Riuhnya

 Isi kepala dengan segala riuhnya 

Pernahkah kamu benar-benar memahami isi kepalamu ?
Riuhnya yang tak berkesudahan dari waktu ke waktu. 

Seingatku, saat remaja aku tidak memusingkan apa yang ada dalam isi kepala ini. Aku hanya dengan senang hati mengerjakan tanpa perlu berpikir serumit sekarang ini. Bermain, bersekolah, mengejar prestasi dan pulang.

Kepala dua dengan rumitnya fase kehidupan menjelang dewasa. Sekedar sekolah sarjana saja, harus dilalui dengan rumitnya finansial jangka panjang. Sadar bahwa bukan orang berpunya. Jadi harus bekerja untuk membiayai pendidikan tinggi. 

Lulus, bergelar sarjana. Setelah ini apa ? Iya bekerja layaknya orang dewasa. Tanpa rengekan anak kecil untuk meminta uang jajan, sekarang anak kecil itu sudah harus membiayai dirinya serta keluarganya. Siklus itu berputar.

Perasaan bergejolak tidak terima, Ambisi kian membubung tinggi namun fakta sangatlah jauh dari ekspektasi. 

Ku kira setelah bergelar sarjana ekonomi, akan mudah untuk membuka usaha, ternyata seperti membakar uang dan tenaga jika modal hanya pas untuk bertahan hidup. Ku kira dengan otak yang pintar akan mudah untuk menggapai cita untuk S2 diluar negeri, rupanya tidak semudah itu. 

Ada yang dinamakan tanggung jawab yang hadir sebagai amunisi isi kepala untuk terus aktif. Tanggung jawab sebagai seorang anak, kakak ataupun adik. 

Seorang anak yang membantu perekonomian keluarga, seorang kakak yang membiayai pendidikan adiknya, seorang adik yang dititipkan anak kakak perempuannya. 

Riuh paling kencangnya adalah bagaimana dengan kehidupan pribadiku. Aku ingin melanjutkan pendidikan S2ku, aku ingin bekerja di tempat yang aku mau, aku ingin menikah. 

Aku menginginkan kehidupanku tanpa rantai yang membelenggu. Aku ingin terbang. Walau menjadi egois. 

Tapi, bagaimana dengan keluargaku.

Dari hari ke hari, ramainya isi kepala makin menjadi. Bagai benang kusut, ini dimana ujungnya. Selanjutnya bagaimana. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mendramatisasi Sebuah Proses

Harga dari Sebuah Kesempatan

Yuk jangan mau kalah