Takut bagi Penulis Pemula, Biasa.
Namun suatu ketika, saat mengikuti pelatihan kepenulisan. Dengan mentor yang memiliki kemampuan menulis handal bahkan dimuat di platform berita nasional. Muncul angan, "aku ingin menjadi seperti kakak ini".
Di sesi sharing, sang mentor menceritakan pengalamannya. Bahkan tidak sedikit peserta yang mengajukan pertanyaan yang selama ini ada di benakku. Segala ketakutanku akan menulis. Ternyata, banyak yang merasakan hal tersebut. Itu adalah pengalaman umum yang dirasakan oleh penulis baru, tidak luput seorang penulis handal juga mengalami fase tersebut.
Solusinya adalah terus menulis. Cobalah lagi, lagi dan lagi. Sambil belajar, bagaimana cara menulis yang baik. Belajar dari tulisan-tulisan orang hebat dan berpengalaman. Belajar membedah karya, bagaimana tulisan tersebut dibuat. Sekaligus belajar untuk mengevaluasi diri. Berani untuk melemparkan tulisan ke khalayak, untuk di koreksi, dikritik dan din hajar habis-habisan. Itulah cara untuk bertumbuh menjadi seorang penulis.
Jangan berhenti hanya karena prasangka diri. Ketakutan yang diluar kendali. Asumsi penilaian buruk, yang membuat sebuah karya tertahan. Tidak pernah berkembang.
Satu hal yang bisa dijadikan catatan sebagai seorang penulis pemula.
Kita tidak bisa memaksakan respon orang lain agar semua orang menyukai sebuah karya tulisan. Terus berkutat pada pertanyaan, Apakah orang lain akan merasa relate dengan tulisan kita, apakah tulisan ini bagus bagi mereka, dan segala respon dari audiens itu adalah diluar kendali seorang penulis.
Yang bisa dilakukan oleh seorang penulis adalah mengendalikan apa yang bisa dikendalikannya. Yaitu diri sendiri. Dia mengendalikan mindsetnya agar tidak berorientasi pada respon orang lain. Melainkan pada diri sendiri. Teruslah menulis. Teruslah belajar. Besok lusa orang-orang yang sejenis denganmu akan hadir, dan menjadi pembacamu.
Percayalah didunia ini dengan miliaran manusia, dengan keanekaragaman latar belakang ataupun cerita. Tetap ada orang-orang yang merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan. Jadi taklukkan ketakutanmu. Tetaplah menulis.
Komentar
Posting Komentar